Tangan kami menggenggam erat. Memujuk hati. Dugaan Allah Maha Hebat. Bukankah rasa kehilangan itu pedih. Walaupun Sakinah cuma seorang sahabat , tapi hati kami telah terikat utuh. Teksi yang kami naiki berhenti di perhentian. Langkah diatur lemah.
" Insyirah, hati kita kena kuat. Biar jadi pendorong kekuatan Sakinah. " tegur Khairina. Astaghfirullah. Janganlah hati ini terlalu mengikutkan perasaan yang sedih, aku perlu ikat ia dengan tabah dan redha atas ketentuanNya. Ya Allah, kurniakanlah kami ini kekuatan dari sisiMu.
* * *
" Assalamu'alaikum.. Sakinah sihat? " Khairina menjawab panggilan Sakinah. " Wa'alaikumsalam, Alhamdulillah. Allah masih beri peluang menikmati hidup. " Suara Sakinah hambar dan diakhiri dengan esakan. " Kenapa Sakinah? " Khairina mulai risau. Esakan semakin kuat. " Maaf, Khairina. Saya tak mampu berkata-kata sekarang. " Talian terputus.
" Insyirah, lepas kuliah nanti kita pergi lawat Sakinah ye. Saya rasa ada sesuatu yang membebani dia. " ujar Khairina.
Langkah diatur pantas. Dari jauh, wajah sayu Sakinah kelihatan. Matanya basah dan di tangannya ada sekeping foto.
bersambung..
No comments:
Post a Comment